Saya ingin bercerita tentang persahabatan saya
dengan seorang wanita cantik dan solehah bernama Syifa Amalia. Saya berteman dengannya
sewaktu saya bersekolah di SMK Negeri 10 Jakarta-Timur. Pada awal-awal
bersekolah saya belom begitu mengenal bagaimana sosok dia,karena saya juga
belum mengenal seluruh teman dikelas termasuk dia. Pada saat itu kami hanya
berteman biasa. Saat kenaikan kelas XI saya dan dia mulai bertemen jauh lebih
dekat bukan hanya dengan syifa saya pun dekat juga dengan beberapa teman
lainnya yaitu nani fadlillah,suci maghfirah,fiorentina,destina,dian
andiningtyas,devita dan masih banyak lagi. Kami berteman cukup dekat. Disaat
saya kesusahan entah dengan pelajaran atau hal lainnya mereka selalu ada
disamping saya. Saya sangat beruntung memiliki teman sebaik mereka semua.
Pada
suatu saat kami melakukan Prakrin atau yang biasa disebut dengan PKL. Saya,syifa,nani
dan suci,destina dan ada beberapa teman yang laiinya kebetulan prakrin ditempat
yang sama yaitu di Bank Indonesia. Saya,syifa,suci dan nani kebetulan
ditempatkan digedung yang sama namun ditempatkan didivisi yang berbeda-beda. Sedangkan
destina yang lainnya ditempatkan digedung yang berbeda. setiap hari kami selalu
berangkat dan pulang bersama. 1bulan kami selalu bersama ikatan persahabatan
pun makin terasa diantara kami. Kebetulan saya lebih dekat dengan syifa. Sewaktu
pkl pun dia selalu menemani saya diruangan kerja/dia membantu saya mengerjakan
tugas yang belum selesai.
Setelah
selesai prakrin pun kedekatan kami tidak luntur. Dikelaspun kami duduk berdua. Saya
selalu bercerita tentang keluh kesah saya dan begitu juga dia. Kami pun sering
menjadi teguran guru pada saat jam pelajaran karena asyik bercanda. Dia pun juga
banyak mengajarkan saya tentang agama benar benar wanita solehah.Sampai pada
akhirnya kami pun lulus. Meskipun kami sudah lulus sekolah,kami tetap menjalin
silaturahmi dengan baik.Saya suka
mengadakan acara kumpul-kumpul dirumah dengan mengundang teman dekat(nani,syifa,suci,fio,destina,dian,devita,dan
yang lainnya). Namun semenjak saya sibuk dengan kuliah begitu pula dengan teman
yang lainnya yang sibuk dengan kuliah mereka/pekerjaan mereka kami jadi jarang
untuk sekedar berkumpul lagi.
Sampai
pada suatu saat kami berkumpul kembali bukan untuk bersenang-senang/bercanda
seperti biasanya,namun kami berkumpul untuk menjenguk sahabat kami yang sakit
yaitu syifa amalia. Kita semua kaget atas sakitnya syifa amalia yang tak
kunjung sembuh akibat sakit lambung yang dideritanya. Sewaktu kami berkunjung
ke kediamannya. Saudari kami sedang menjerit kesakitan,perasaan kami semua
seperti disayat dengan sebilah pisau yang amat tajam,kami tak tega untuk
melihatnya. Dan pada akhirya kami pulang dengan harapan sahabat kami lekas
sembuh dan bisa berkumpul dengan saya dan teman yang lainnya kembali.
Semenjak
hari itu saya dan teman yang lainnya tak henti untuk mendoakan syifa. Kami semua
percaya kalau syifa akan sembuh kembali. Sampai pada waktunya tepat pada
tanggal 18 APRIL 2012 sahabat/teman kami menghembuskan nafas terakhirnya
dirumah sakit sekitar pukul 18.00. saya mendapatkan kabar dari sahabat saya
yaitu nani fadlillah awalnya saya anggap hanya bercandaan karena kami semua
memang sering bercanda canda yang konyol. Namun setelah saya mendengar suara
nani yang beda dan menangis saat itu pun saya langsung menangis seketika dan
tidak percaya atas apa yang diberitahu oleh nani barusan. Tanpa berfikir panjang
saya langsung menelpon sahabat saya dian,dan akhirnya kami janjian untuk sama
sama datang ke rumah almh. Sesampainya disana,air mata tidak bisa dibendung
lagi apalagi saat melihat jenazah sahabat kami yang tidak dapat bercanda/pun
sekedar bertegur sapa dengan kami semua,dan dia hanya tertidur cantik. Saat kau
dibalut dengan pakaian terakhirmu,kau begitu anggun dan kau terlihat lebih
menawan,yang biasanya kau hanya memakai kaos panjang,celana jeans yang longgar
dan kerudung yang menutupi kepalamu,namun hari itu kau dibalut dengan kain
kafan dan lingkaran bunga melati disekitar kepalamu.kau sungguh cantik
sahabatku.
Dengan
begitu cepat kau meninggalkan keluarga,saudara,kekasih,sahabat,teman yang
begitu menyayangimu. Sampai saat ini aku pun belum mempercayai kalau dirimu
sudah tidak ada di dunia ini untuk selamanya. Tak pernah terbayang olehku,harus
hidup tanpa senyummu.Kau memang sudah ada di surga namun kebaikanmu,canda gurau mu,celotehan khas
mu masih terniang di ingatanku. Kau adalah teman terbaik ku. Selamat jalan
syifa amalia sahabatku,allah lebih menyayangimu.semoga kau tenang dan bahagia
ditempatmu saat ini.. we always love you syifa amalia… MISS YOUUUUUUUUUUUU :’(
:’(
cupcake ini saya beli khusus untuk ulang tahun pacar saya yang berulang tahun tanggal 17 juni 2012 yang ke 20tahun. setiap desain cupcake ini saya maksudkan dengan arti arti didalamnya :). dan saya puas karena dia sangat senang atas pemberian saya ini.
Berawal dari sebuah perkenalan yang
sangat sederhana antara aku dan dia. Hanya karena diperkenalkan oleh sahabatku
sewaktu di SMA aku bisa berkenalan dengannya tepat pada bulan april 2010 saat
aku masih duduk dikelas 2 SMA. Pada saat itu aku dan sahabatku sedang PKL
disebuah perusahaan di daerah Jakarta-utara,kami sangat sering berbincang
disaat waktu senggang dan tiba tiba dia memperkenalkan salah satu temannya
padaku. Namun teman yang dikenalkan padaku itu memperkenalkan lagitemannya kepadaku.
Pada awalnya aku hanya bersikap cuek
dan acuh,aku juga tidak begitu menggubris setiap sms/tlp dari temannya itu. Selama
berkenalan dia menunjukan sikap yang baik dan perhatian,pada akhirnya perasaan
kagum dan suka itu muncul diantara kami berduamdam kamipun sepakat untuk
menjalani hubungan yang lebih dekat lagi seperti yang biasa disebut “PACARAN”.1bulan
kita berkomunikasi dan berpacaran hanya lewat handphone pada akhirnya aku dan
dia bertemu di dekat rumah temanku tepat di depan masjid besar dan disana dia
menungguku dibawah tiang listrik besar. Pada saat itu dia masih memakai pakaian
kerja sepulang pkl dan aku pun masih memakai pakaian sekolah seragam putih-putih
sehabis mengerjakan tugas dirumah teman. Awalnya aku sedikit kaget melihat dia pertama
kali,karena aku berfikir dia seorang lelaki yang amat dewasa. Namun setelah
dipertegas dan dilihat dia sosok pria yang manis dan lucu. Jujur pertemuan ini
sangat unik dan cukup membuat wajahku sedikit merona bila mengingat kembali
saat itu.
Seminggu berlalu kami putus
komunikasi entah apa sebabnya. Pada saat itu aku hanya bersikap diam dan
cuek.akhirnya suatu saat dia menghubungiku lagi dan mengajakku untuk bertemu
yang kedua kalinya,lantas aku pun mengiyakan ajakannya. Dia berniat menjemputku
dirumah,namun aku menolak.akhirnya dia menjemputku di dekat rumah. Setelah pertemuan
itu kamipun dekat kembali dan pada akhirnya kami menjalani hubungan ini lebih
baik lagi tepat pada tanggal 15mei2010 dan sampai saat ini.
Dua tahun kami menjalani hubungan
ini,banyak lika-liku yang kami berdua alami. Dari pertengkaran kecil sampai
yang besar,kebohongan,pengkhianatan dan yang lainnya.Canda,tawa,sedih,susah,senang
selalu kami lalui bersama-sama.apapun yang terjadi dalam hubungan ini, semua kami
jadikan sebagai pembelajaran dan sebagai acuan untuk menjadi yang lebih baik
lagi. Saat ini kami berdua sedang menuntut ilmu di universitas yang berbeda,aku
bersekolah disalah satu universitas ternama dikota depok yaitu UNIVERSITAS
GUNADARMA fakultas ekonomi jurusan akuntansi sedangkan dia bersekolah disalah
satu universitas di UNIVERSITAS PANCASILA jurusan mesin dan bekerja disalah
satu perusahaan bergerak dibidang listrik.
“Semoga
perjalanan cinta yang sederhana ini akan berakhir dengan kebahagiaan,amin.”
Akuntansi
berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat. Sejarah perkembangan pemikiran
akuntansi (accounting thought ) dibagi dalam tiga periode: tahun 4000
SM – 1300 M; tahun 1300 – 1850 M, dan tahun 1850 Msampai sekarang.
Masing-masing periode memberi kontribusi yang berarti bagiilmu akuntansi. Pada
periode pertama akuntansi hanyalah bentuk record-keeping yang sangat
sederhana, maksudnya hanyalah bentuk pencatatan dari apa saja yangterjadi dalam
dunia bisnis saat itu. Periode kedua merupakan penyempurnaan dari periode
pertama, dikenal dengan masa lahirnya
double-entry
bookkeeping . Pada periode terakhir banyak sekali perkembangan
pemikiran akuntansi yang bukanlagi sekedar masalah debit kiri – kredit kanan,
tetapi sudah masuk ke dalamkehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi yang
luar biasa juga berdampak pada perubahan ilmu akuntansi modern
(Basuki, 2000 : 173).Pengguna akuntansi juga bervariasi, dari yang sekedar
memahamiakuntansi sebagai: 1) alat hitung menghitung; 2) sumber informasi
dalam pengambilan keputusan; 3) sampai ke pemikiran bagaimana akuntansi
diterapkansejalan dengan (atau sebagai bentuk pengamalan) ajaran agama. Bila dihubungkan
dengan kelompok usaha kecil dan menengah tampaknya pemahaman terhadap
akuntansi masih berada pada tataran pertama dan keduayaitu sebagai alat
hitung-menghitung dan sebagai sumber informasi untuk pengambilan
keputusan (Basuki, 2000 : 174).
Akuntansi suatu seni yang mendasarkan
pada logika matematik - sekarang dikenal sebagai “pembukuan berpasangan” (double-entry
bookkeeping) - sudah dipahami di Italia sejak
tahun 1495 pada saat Luca Pacioli (1445 - 1517), yang juga dikenal
sebagai Friar (Romo) Luca dal Borgo, mempublikasikan bukunya tentang
“pembukuan” di Venice.
Buku berbahasa Inggris pertama diketahui dipublikasikan di London oleh John
Gouge atau Gough pada tahun 1543.Sebuah buku ringkas menampilkan instruksi
akuntansi juga diterbitkan pada tahun 1588 oleh John Mellis dari Southwark, yang termuat
perkataanya, "I am but the renuer and reviver of an ancient old copie
printed here in London the 14 of August 1543: collected, published, made, and
set forth by one Hugh Oldcastle, Scholemaster, who, as appeareth by his
treatise, then taught Arithmetics, and this booke in Saint Ollaves parish in
Marko Lane." John Mellis merujuk pada fakta bahwa prinsip akuntansi yang
dia jelaskan (yang merupakan sistem sederhana dari masukan ganda/double entry)
adalah "after the forme of Venice".Pada awal abad ke 18, jasa dari
akuntan yang berpusat di London telah digunakan selama suatu penyelidikan seorang
direktur South Sea Company, yang
tengah memperdagangkan bursa perusahaan tersebut. Selama penyelidikan ini,
akuntan menguji sedikitnya dua buku perusahaan para. Laporannya diuraikan dalam
buku Sawbridge and Company, oleh Charles Snell, Writing Master and Accountant
in Foster Lane, London. Amerika Serikat berhutang konsep tujuan Akuntan
Publik terdaftar pada Inggris yang telah memiiki Chartered Accountant di abad ke 19.
Informasi
akuntansi merupakan alat yang digunakan oleh pengguna informasi untuk
pengambilan keputusan (Nicholls dan Holmes, 1988 : 57),terutama oleh pelaku
bisnis. Dimana informasi akuntansi diharapkan dapatdidefinisikan sebagai sistem
informasi yang bisa mengukur dan mengkomunikasikan informasi keuangan tentang
kegiatan ekonomi.Informasi akuntansi sangat diperlukan oleh pihak manajemen
perusahaan dalam merumuskan berbagai keputusan dalam memecahkan segala
permasalahan yang dihadapi perusahaan. Informasi akuntansi yang dihasilkan dari
suatu laporan keuangan berguna dalam rangka menyusun berbagai proyeksi,
misalnya proyeksi kebutuhan uang kas di masa yang akan datang. Dengan menyusun
proyeksi tersebut secara tidak langsung akan mengurangi ketidakpastian, antara
lain mengenai kebutuhan akan kas (Sutapa, Rusdi, dan Kiryanto, 2001 :
200).Informasi akuntansi berhubungan dengan data akuntansi atas transaksi-transaksi
keuangan dari suatu unit usaha, baik usaha jasa, dagang maupun manufaktur.
Supaya informasi akuntansi dapat dimanfaatkan oleh manajer atau pemilik
usaha, maka informasi tersebut disusun dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan.Arus informasi akuntansi keuangan dari perusahaan
kecil sangat bermanfaat untuk mengetahui bagaimana perkembangan usaha
perusahaan, bagimana struktur modalnya, berapa keuntungan yang diperoleh
perusahaan padasuatu periode tertentu.Holmes dan Nicholls (1989) mengungkapkan
bahwa informasi akuntansiyang banyak disiapkan dan digunakan perusahaan kecil
dan menengah adalah informasi yang diharuskan menurut undang-undang atau
peraturan (statutory).Selain itu, informasi akuntansi yang seharusnya dibutuhkan
oleh manajemen perusahaan kecil dan menengah dalam pengggunaan informasi
akuntansi sangat terbatas sekali. Philip (1977) mengungkapkan banyak kelemahan
dalam praktik akuntansi pada perusahaan kecil. Kelemahan tersebut
disebabkan oleh beberapafaktor, antara lain pendidikan dan overload standar
akuntansi yang dijadikan pedoman dalam penyusunan pelaporan keuangan
(William et.al, 1989; Knutsondan Henry, 1985; Nair dan Rittenberg, 1983;
Wishon, 1985; Murray et al, 1983).Dari uraian tersebut jelas bahwa industri
menengah banyak mengalami kesulitan dalam memahami informasi akuntansi dengan
baik. Padahal dengan semakin ketatnya persaingan bisnis dalam era globalisasi
ekonomi, hanya perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif yang akan
mampu memenangkan persaingan. Keunggulan tersebut diantaranya adalah kemampuan dalam
mengelola berbagai informasi, sumber daya manusia, alokasi dana, penerapan
teknologi, sistem pemasaran dan pelayanan. Sehingga manajemen perusahaan
yang profesional merupakan tuntutan yang harus segera dipenuhiuntuk dapat
melaksanakan kegiatan-kegiatan perusahaan secara baik.Melihat begitu banyak
peranan dan manfaat informasi akuntansi dalam menciptakan arus informasi
keuangan guna menunjang kelangsungan hidup(going concern) industri menengah,
maka melalui penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pengetahuan
akuntansi, sakala usaha, pengalaman usaha dan jenisusaha terhadap penggunaan
informasi akuntansi pada industri menengah.Dalam penelitian ini ketidakpastian
lingkungan diposisikan sebagai moderating variable yang merupakan variabel yang
dapat memoderasi(memperkuat atau memperlemah) pengaruh pengetahuan akuntansi,
sakala usaha, pengalaman usaha, dan jenis usaha terhadap penggunaan
informasi akuntansi.Variabel ketidakpastian lingkungan sebagai variabel
pemoderasi karena variabelini diduga mempunyai potensi yang cukup kuat
mempengaruhi pengetahuanakuntansi, skala usaha, pengalaman usaha dan jenis
usaha terhadap penggunaaninformasi akuntansi. Informasi akuntansi yang
digunakan dalam penelitian initerdiri dari informasi akuntansi statutori,
anggaran dan informasi akuntansitambahan.
Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai
informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat
keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan,
organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam mengukur,
berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Secara luas,
akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis".[1] Akuntansi
bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan
oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya,
seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat
dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah
suatu cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis
dicatat, diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan.
Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi,
adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan
suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini - yang masuk akal
tapi tak dijamin sepenuhnya - mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan
prinsip akuntansi yang berterima umum.Praktisi akuntansi dikenal sebagai
akuntan. Akuntan bersertifikat resmi memiliki gelar tertentu yang berbeda di
tiap negara. Contohnya adalah Chartered Accountant (FCA, CA or ACA), Chartered
Certified Accountant (ACCA atau FCCA), Management Accountant (ACMA, FCMA atau
AICWA), Certified Public Accountant (CPA), dan Certified General Accountant
(CGA). Di Indonesia, akuntan publik yang bersertifikat disebut CPA Indonesia
(sebelumnya: BAP atau Bersertifikat Akuntan Publik).
SEJARAH AKUNTANSI DI INDONESIA
Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusur pada era penjajahan Belanda
sekitar 17 (ADB 2003) atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Jejak yang jelas
berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia dapat ditemui pada tahun 1747,
yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Sociteyt yang berkedudukan
di Jakarta (Soemarso 1995). Pada era ini Belanda mengenalkan sistem pembukuan
berpasangan (double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan
oleh Luca Pacioli. Perusahaan VOC milik Belanda-yang merupakan organisasi
komersial utama selama masa penjajahan-memainkan peranan penting dalam praktik
bisnis di Indonesia selama era ini (Diga dan Yunus 1997).
Kegiatan ekonomi pada masa penjajahan meningkat cepat selama tahun 1800an
dan awal tahun 1900an. Hal ini ditandai dengan dihapuskannya tanam paksa
sehingga pengusaha Belanda banyak yang menanmkan modalnya di Indonesia.
Peningkatan kegiatan ekonomi mendorong munculnya permintaan akan tenaga akuntan
dan juru buku yang terlatih. Akibatnya, fungsi auditing mulai dikenalkan
di Indonesia pada tahun 1907 (Soemarso 1995). Peluang terhadap kebutuhan audit
ini akhirnya diambil oleh akuntan Belanda dan Inggris yang masuk ke Indonesia
untuk membantu kegiatan administrasi di perusahaan tekstil dan perusahaan
manufaktur (Yunus 1990). Internal auditor yang pertama kali datang di Indonesia
adalah J.W Labrijn-yang sudah berada di Indonesia pada tahun 1896 dan
orang pertama yang melaksanakan pekerjaan audit (menyusun dan mengontrol
pembukuan perusahaan) adalah Van Schagen yang dikirim ke Indonesia pada tahun
1907 (Soemarso 1995).
Pengiriman Van Schagen merupakan titik tolak berdirinya Jawatan Akuntan
Negara-Government Accountant Dienst yang terbentuk pada tahun 1915
(Soermarso 1995). Akuntan publik yang pertama adalah Frese & Hogeweg yang
mendirikan kantor di Indonesia pada tahun 1918. Pendirian kantor ini
diikuti kantor akuntan yang lain yaitu kantor akuntan H.Y.Voerens pada tahun
1920 dan pendirian Jawatan Akuntan Pajak-Belasting Accountant Dienst
(Soemarso 1995). Pada era penjajahan, tidak ada orang Indonesia yang bekerja
sebagai akuntan publik. Orang Indonesa pertama yang bekerja di bidang akuntansi
adalah JD Massie, yang diangkat sebagai pemegang buku pada Jawatan Akuntan
Pajak pada tanggal 21 September 1929 (Soemarso 1995).
Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945,
dengan mundurnya Belanda dari Indonesia. Pada tahun 1947 hanya ada satu orang
akuntan yang berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr. Abutari (Soermarso 1995).
Praktik akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan
(1950an). Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem
akuntansi model Belanda. Nasionalisasi atas perusahaan yang dimiliki Belanda
dan pindahnya orang orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958 menyebabkan
kelangkaan akuntan dan tenaga ahli (Diga dan Yunus 1997).
Atas dasar nasionalisasi dan kelangkaan akuntan, Indonesia pada akhirnya
berpaling ke praktik akuntansi model Amerika. Namun demikian, pada era ini
praktik akuntansi model Amerika mampu berbaur dengan akuntansi model Belanda,
terutama yang terjadi di lembaga pemerintah. Makin meningkatnya jumlah
institusi pendidikan tinggi yang menawarkan pendidikan akuntansi-seperti
pembukaan jurusan akuntansi di Universitas Indonesia 1952, Institute Ilmu
Keuangan (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara-STAN) 1990, Univesitas Padjajaran
1961, Universitas Sumatera Utara 1962, Universitas Airlangga 1962 dan
Universitas Gadjah Mada 1964 (Soermarso 1995)-telah mendorong pergantian
praktik akuntansi model Belanda dengan model Amerika pada tahun 1960 (ADB
2003). Selanjutnya, pada tahun 1970 semua lembaga harus mengadopsi sistem
akuntansi model Amerika (Diga dan Yunus 1997).
Pada pertengahan tahun 1980an, sekelompok tehnokrat muncul dan memiliki
kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi. Kelompok tersebut berusaha
untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada
pasar-dengan dukungan praktik akuntansi yang baik. Kebijakan kelompok tersebut
memperoleh dukungan yang kuat dari investor asing dan lembaga-lembaga
internasional (Rosser 1999). Sebelum perbaikan pasar modal dan pengenalan
reformasi akuntansi tahun 1980an dan awal 1990an, dalam praktik banyak ditemui
perusahaan yang memiliki tiga jenis pembukuan-satu untuk menunjukkan gambaran
sebenarnya dari perusahaan dan untuk dasar pengambilan keputusan; satu untuk
menunjukkan hasil yang positif dengan maksud agar dapat digunakan untuk
mengajukan pinjaman/kredit dari bank domestik dan asing; dan satu lagi yang
menjukkan hasil negatif (rugi) untuk tujuan pajak (Kwik 1994).
Pada awal tahun 1990an, tekanan untuk memperbaiki kualitas pelaporan
keuangan muncul seiring dengan terjadinya berbagai skandal pelaporan keuangan
yang dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku investor. Skandal pertama
adalah kasus Bank Duta (bank swasta yang dimiliki oleh tiga yayasan yang
dikendalikan presiden Suharto). Bank Duta go public pada tahun 1990
tetapi gagal mengungkapkan kerugian yang jumlah besar (ADB 2003). Bank Duta
juga tidak menginformasi semua informasi kepada Bapepam, auditornya atau underwriternya
tentang masalah tersebut. Celakanya, auditor Bank Duta mengeluarkan opini wajar
tanpa pengecualian. Kasus ini diikuti oleh kasus Plaza Indonesia Realty
(pertengahan 1992) dan Barito Pacific Timber (1993). Rosser (1999) mengatakan
bahwa bagi pemerintah Indonesia, kualitas pelaporan keuangan harus diperbaiki
jika memang pemerintah menginginkan adanya transformasi pasar modal dari model
“casino” menjadi model yang dapat memobilisasi aliran investasi jangka
panjang.
Berbagai skandal tersebut telah mendorong pemerintah dan badan berwenang
untuk mengeluarkan kebijakan regulasi yang ketat berkaitan dengan pelaporan
keuangan. Pertama, pada September 1994, pemerintah melalui IAI mengadopsi
seperangkat standar akuntansi keuangan, yang dikenal dengan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK). Kedua, Pemerintah bekerja sama dengan Bank Dunia
(World Bank) melaksanakan Proyek Pengembangan Akuntansi yang ditujukan untuk
mengembangkan regulasi akuntansi dan melatih profesi akuntansi. Ketiga, pada
tahun 1995, pemerintah membuat berbagai aturan berkaitan dengan akuntansi dalam
Undang Undang Perseroan Terbatas. Keempat, pada tahun 1995 pemerintah
memasukkan aspek akuntansi/pelaporan keuangan kedalam Undang-Undang Pasar Modal
(Rosser 1999).
Jatuhnya nilai rupiah pada tahun 1997-1998 makin meningkatkan tekanan pada
pemerintah untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan. Sampai awal 1998,
kebangkrutan konglomarat, collapsenya sistem perbankan, meningkatnya
inflasi dan pengangguran memaksa pemerintah bekerja sama dengan IMF dan
melakukan negosiasi atas berbagaai paket penyelamat yang ditawarkan IMF. Pada
waktu ini, kesalahan secara tidak langsung diarahkan pada buruknya praktik
akuntansi dan rendahnya kualitas keterbukaan informasi (transparency).
sumber : http://staff.undip.ac.id/akuntansi/anis/2011/03/21/sejarah-perkembangan-akuntansi-di-indonesia/, http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi.